Langsung ke konten utama

Sepi

Sebuah kata yang tak asing
Sangat melekat
Seperti memeluk dan tak ingin lepas
Sebenarnya setiaku tak ingin untukmu
Seharusnya memang bukan padamu
Seandainya bukan hanya Tuhan yang tahu
Sepiku ini sudah seperti sajak
Sajak lama tapi selalu terdengar baru
Sangat muak aku membacanya
Sudah bosan aku rasanya
Selalu menulis dengan judul yang sama
Seakan hidupku telah tercipta untukmu
Selama apa waktu jodohku denganmu
Sepanjang mana aku pergi denganmu
Sudahi saja ini semua, tolong

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan

Kadang, entah kenapa aku menyukai hujan hingga lupa rasanya lara. Kadang juga, aku sangat membencinya hingga senang untuk memakinya. Aku tidak terobsesi dengannya, aku juga tidak ingin terus-terusan dengannya. Mungkin karena tetesannya. Iya. Tetesannya membawa kenangan manis sampai aku merasakan bahagia karena terus-terusan tertawa. Berganti hari, tetesannya membawa kenangan pahit sampai aku semangat menangis. Tapi itu semua kusadari hanyalah kesalahanku. Bukan kesalahannya. Kalau difikir-fikir bagaimana bisa hujan tidak menetes. Itu hanyalah aku yang sensi. Menganggap semuanya menyakiti diri. Inilah aku yang tidak bisa mengendalikan diriku hingga melampiaskan semuanya padanya. Seharusnya aku bersikap biasa. Biasa jika itu akan selalu terjadi. Kenapa aku harus seperti ini. Berulang-ulang kali. Untungnya hujan tak seperti aku. Dia selalu datang tanpa harus menyalahkanku, tanpa harus mengomentariku. Itu dia.