Kadang, entah kenapa aku menyukai hujan hingga lupa rasanya lara. Kadang juga, aku sangat membencinya hingga senang untuk memakinya. Aku tidak terobsesi dengannya, aku juga tidak ingin terus-terusan dengannya. Mungkin karena tetesannya. Iya. Tetesannya membawa kenangan manis sampai aku merasakan bahagia karena terus-terusan tertawa. Berganti hari, tetesannya membawa kenangan pahit sampai aku semangat menangis. Tapi itu semua kusadari hanyalah kesalahanku. Bukan kesalahannya. Kalau difikir-fikir bagaimana bisa hujan tidak menetes. Itu hanyalah aku yang sensi. Menganggap semuanya menyakiti diri. Inilah aku yang tidak bisa mengendalikan diriku hingga melampiaskan semuanya padanya. Seharusnya aku bersikap biasa. Biasa jika itu akan selalu terjadi. Kenapa aku harus seperti ini. Berulang-ulang kali. Untungnya hujan tak seperti aku. Dia selalu datang tanpa harus menyalahkanku, tanpa harus mengomentariku. Itu dia.

Komentar
Posting Komentar